Terakhir! Tulisan Baper Tentang Wisuda


13612029RB

Jauh sebelum saya sidang terbuka wisuda sarjana pada Sabtu 1 April 2017, sekitar tahun 2015 yang lalu. Saya masih dengan sangat jelas ingat bahwa saya pernah menjadi mahasiswa yang bermasalah di semester sebelumnya dengan nilai akademik yang rendah, paling rendah yang pernah saya dapatkan ketika berkuliah di sini (limit IP mendekati 2) . Hasil akademik tersebut membawa saya kehadapan dosen wali untuk mempertanggung-jawabkan hasil buruk tersebut. Setelah bertemu, beliau memberikan target untuk meraih nilai akademik yang lebih bagus di semester selanjutnya. Pada masa itu saya sadar bahwa saya tidak akan bisa lulus tepat waktu empat tahun karena beberapa mata kuliah yang saya harus diambil ulang, kemudian saya membuat target untuk lulus bulan April 2017. Karena saya berkuliah dengan beasiswa BidikMisi yang batas tanggungan biaya hidup cuma sampai empat tahun (delapan semester), maka saya tidak ingin lama-lama menunda kelulusan agar tidak memakan biaya hidup lebih banyak.

Pada semester 7 saya jalani dengan seperti biasa kuliah pada umumnya, cuma satu hal yang masih belum beres dalam diri saya yaitu kepercayaan diri. Berusaha untuk menjadi lebih baik memang butuh proses. Saat itu saya mahasiswa yang terkenal (se-angkatan AE12) selalu tidur di kelas. Kemudian ditambah dengan berbagai masalah di semester sebelumnya terkadang membuat saya merasa minder dan ter-mindset di otak saya bahwa saya mahasiswa yang buruk dan tidak patut dicontoh dalam urusan akademik. Akan tetapi dengan mindset tersebut saya tetap menjalani kuliah seperti biasa tanpa hambatan. Hanya saja ada hal yang cukup menyedihkan karena saya tidak punya keinginan untuk lebih berprestasi, saya lebih banyak bilang “enggak ah” pada beberapa hal yang harusnya bisa saya raih saat itu.

Hingga pada suatu saat saya diajak dua teman saya menjadi sebuah tim untuk ikutan kompetisi ini (I**APS). Saat itu saya sebenarnya kurang berminat karena deadline persyaratannya berdekatan dengan progress report tugas Desain Pesawat Udara (DPU). Awalnya saya kurang yakin dengan kemampuan saya saat itu, akan tetapi saya tidak mau mengecewakan dua teman saya ini untuk ikut kompetisi ini. Dan ternyata lolos!.

Kompetisi tersebut mulai dilakukan pada semester delapan, di mana pada semester ini saya mengulang beberapa mata kuliah dan menghabiskan sisa SKS yang masih banyak. Pada semester ini juga saya harus segera menentukan ingin tugas akhir seperti apa dan dosen pembimbingnya siapa. Awalnya saya ingin sekali mengikuti magang industri dan merencanakan karir di sebuah perusahaan MRO. Akan tetapi, seiring waktu tugas kompetisi yang saya ikuti kurang mendukung untuk mengambil keputusan magang karena saya harus selalu di Bandung memonitor progres proyek kompetisi yang saya lakukan.

Walaupun keberjalanan kompetisi begitu terjal, dan ada sedikit bad ending buat tim saya. Saya mungkin harus bilang kalau kompetisi ini membuat saya lebih semangat menjalani sisa waktu di ITB. Karena saya tidak menyangka bahwa tingkat akhir saya lebih sibuk dan lebih padat dari apa yang saya bayangkan.

Bulan Juni 2016, entah saya tiba-tiba terpikir untuk mengambil topik tugas akhir tentang astronotika. Padahal saya awalnya ingin mengambil topik tentang reliability atau tentang sistem avionik. Ide untuk mengambil topik ini karena saat itu belum ada angkatan AE 2012 yang mengambil topik tersebut. Selain itu, dulu sekitar tingkat dua pernah ada ketertarikan tentang bidang astronotika, tapi hanya sebatas ingin saja tanpa ada kelanjutan yang jelas.

Setelah kompetisi selesai total, bulan september saya baru memulai mengerjakan tugas akhir dengan topik perancangan nanosatelit. Saya mengajukan topik tersebut karena saat itu saya mengira kalau tugas akhir saya akan mudah karena topik tersebut pernah dibuat saat tugas perancangan satelit oleh suatu tim. Saya hanya ikuti metode yang sudah ada dan saya perkirakan bulan desember sudah selesai. Akan tetapi perkiraan saya salah, tugas akhir ini susah dan melelahkan. Ketika dalam perancangan satelit sebelumnya dilakukan oleh sebuah tim yang terdiri dari empat sampai lima orang dengan pembagian tugas sesuai dengan bidang keahlian masing-masing. Sedangkan pada tugas akhir ini saya mengerjakannya sendirian. Sempat di dua minggu pertama ingin ganti topik tugas akhir, namun pembimbing saya selalu menyemangati dan bilang kalau pasti bisa diselesaikan tugas akhir ini sebelum batas deadline persyaratan wisuda April.

Pada semester 9 saya tidak mengambil mata kuliah apapun dan kegiatan luar kampus untuk fokus mengerjakan tugas akhir. Alhamdulillah tugas akhir saya selesai dan saya lulus sidang tugas akhir dengan nilai A. Saya bersyukur, juga tidak mengira bisa mendapatkan nilai A karena masih banyak hal-hal yang perlu diperbaiki dari tugas akhir saya. Sekaligus saya lega karena telah melewati fase terakhir dan tersulit dalam masa perkuliahan di ITB.


Hal yang saya dapatkan di ITB

Selama 4.5 tahun waktu yang saya habiskan untuk menyelesaikan studi di ITB. Waktu begitu terasa cepat karena setiap tahun banyak hal yang bisa dinikmati di sini. Menikmati tidak harus hal menyenangkan, tetapi juga hal yang menyedihkan. Banyak yang perlu diperjuangkan untuk bisa bertahan di lingkungan ini. Kalau orang-orang bilang masuk ITB itu susah, bertahan hidup di sini lebih susah lagi. Apalagi untuk lulus jauh lebih susah dari pada sekedar bertahan hidup.

Contoh dari segi kehidupan akademik, pada tahun pertama saja, TPB, saya hampir stress karena ada banyak bertebaran nilai C. Kemudian pada saat masuk jurusan ada mata kuliah yang mendapat nilai D, kemudian saya harus menunggu satu tahun untuk mengambil kuliah itu lagi. Setelah saya ambil di tahun berikutnya malah nilainya menjadi E. Hingga tiga kali ambil saya baru lulus. Selain itu, seperti yang saya bilang di awal, saya pernah mendapat IP mendekati 2,0 dan dipanggil ke dosen wali bersama dengan mahasiswa-mahasiswa yang biasanya bermasalah akademik.

Kemudian dari segi keuangan, di Bandung memang biaya hidupnya semakin meningkat dan semakin mahal. Saya merupakan mahasiswa yang diberi beasiswa bidikmisi dan pernah merasakan masa di mana dana bidikmisi telat cair sampai berbulan-bulan (dan berkali-kali). Saat itu, saya dan juga mahasiswa bidikmisi yang lain tidak jarang melakukan penghematan ekstrim seperti makan sehari sekali maupun berpuasa.

Saya membayangkan dan sedikit demi sedikit bermimpi untuk meraih berbagai pencapaian ketika menjadi mahasiswa. Mulai dari punya IP cumlaude hinga menjadi seorang ketua himpunan mahasiswa. Hampir semuanya gagal. Efeknya tak jarang saya stress dan sering merasakan beban pikiran yang besar hingga mengganggu kehidupan akademik dan sosial. Mungkin satu-satunya yang berhasil adalah lulus dari ITB prodi Aeronotika & Astronotika.

Saya merasa banyak mahasiswa di sini yang punya ambisi dan ekspektasi, termasuk saya dulu. Akan tetapi ada banyak di antara mereka yang gagal memenuhi ambisi mereka. Ada yang tidak puas hingga stress melanda mereka. Akhirnya tidak sedikit juga yang memilih untuk menyalurkan kekesalan kepada hal-hal negatif dan menghindari kehidupan sosial. Dampaknya ya mungkin jarang ikut kuliah dan prestasi memburuk.

Akan tetapi saya bersyukur, di sini banyak sekali orang-orang yang peduli dengan permasalahan akademik. Contohnya dari teman se-angkatan di prodi yang sering membantu mengingatkan tentang kuliah, membantu dengan menjadi tutor, atau sekedar memberi semangat. Kemudian contoh lainnya, ada orang-orang yang peduli tentang permasalahan akademik maupun kesejahteraan di ranah Kabinet (atau BEM di PT lain) KM ITB seperti Kementerian Kesejahteraan Mahasiswa (sekarang namanya ganti). Kementerian ini bahkan sampai mengadvokasi mahasiswa yang terancam DO ke pihak rektorat untuk diberikan kesempatan lagi. Kebetulan saya pernah bergabung di kementerian ini dan turut serta menyelesaikan beberapa masalah mahasiswa yang sifatnya personal. Uniknya di semester setelah habis masa berkegiatan di sana, malah saya yang merasakan masalah personal itu sendiri.

Saya punya pengalaman sebagai mentor, sebagai ketua divisi, dan ketua bidang di beberapa organisasi kampus yang saya ikuti. Saya sering menjadi tempat curhat teman-teman yang saya mentori atau yang saya pimpin kinerjanya. Prinsip yang saya pegang waktu itu adalah yang bisa menyelesaikan masalah seseorang adalah orang itu sendiri. Saya sebisa mungkin memberi dukungan dan saran yang membuat orang itu aktif mencari titik baliknya untuk mau bergerak demi kebaikan dirinya. Karena terkadang saya sering mendapat masukan akan suatu hal dari seseorang yang suka memberi solusi praktis berdasarkan pengalaman dia dan menganggap semua ini mudah. Ini yang orang-orang kadang lupa, bahwa setiap orang punya kondisi spesial masing-masing dengan tingkat permasalahan yang berbeda.

Sebagai orang yang pernah ikut mencari solusi bagi masalah orang dan menjadi orang yang bermasalah, saya pikir ini merupakan suatu proses “Teori-Praktik” dari sugesti yang saya berikan ke orang lain. Kemudian teori ini harus saya terapkan dalam hidup saya. Intinya saya harus menyugesti diri saya sendiri. Terdengar terlalu individualis dalam menyelesaikan masalah, tidak. Selain menyugesti diri sendiri, peran yang paling besar adalah inspirasi dari teman-teman dan orang-orang baru yang saya temui, yang membuat saya termotivasi menyelesaikan tugas akhir dan sebagainya. Menjadi orang yang bermasalah tidak membuat saya putus hubungan sosial, awalnya putus sih tetapi sebentar. Banyak orang yang saya temui mulai dari orang-orang di GMF saat kerja praktek, teman-teman eksternal KMPN, kabinet, ISCAPS, dan banyak lagi. Setiap dari mereka memberi inspirasi besar, hingga akhirnya saya dapat sedikit demi sedikit berubah seperti apa yang difirmankan Allah SWT dalam QS Ar-Ra’d:11

Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri

Setiap menaiki tahun perkuliahan, pada setiap tahap, saya selalu bertemu teman-teman yang membuat saya tidak takut dan selalu termotivasi untuk selalu bermimpi walau seringkali gagal. Mulai dari teman panitia Aku Masuk ITB (AMI) selama tiga tahun kepengurusan, panitia OSKM mulai dari zaman diklat Taplok hingga jadi pendiklat mentor, teman-teman Kabinet KM ITB dari sejak TPB jadi anggota magang hingga tingkat 3 menjadi wakil deputi, teman-teman Keluarga Mahasiswa Teknik Penerbangan (KMPN) ITB, dan setiap teman atau kelompok yang tidak bisa saya sebut satu per satu.


Mengingat lagi motivasi saya dulu ketika masuk ITB. Saat itu, kelas sepuluh, saya iseng membaca buku karangan Prof. Yohanes Surya “Fisika itu Mudah”. Pada permulaan halaman buku terdapat sebuah kata pengantar berisi kredit terhadap peraih medali olimpiade fisika internasional. Mulai dari nama, asal sekolah, prestasi, dan jurusan dan perguruan tinggi yang mereka pilih. Saya melihat mereka ini banyak melanjutkan kuliah di luar negeri, kalau di dalam negeri mereka rata-rata melanjutkan kuliah di ITB. Kemudian secara tidak langsung membuat saya penasaran dengan ITB dan akhirnya memutuskan untuk punya impian menjadi mahasiswa ITB.

Setelah menjadi mahasiswa ITB saya sadar. Bahwa sejak dulu hingga saat ini telah banyak alumni yang turut berkontribusi memajukan Indonesia dari berbagai bidang mulai dari peneliti, insinyur, pekerja seni, hingga politisi. Harusnya ketika saya lulus nanti saya bukan orang yang biasa-biasa saja. Karena mungkin ITB punya warisan ilmu turun-temurun untuk mahasiswanya agar mau berkontribusi lebih bagi negaranya. Akan tetapi butuh pembuktian dari saya, apakah warisan ilmu yang saya dapatkan dapat segera termanfaatkan atau tidak. Tinggal menunggu waktu.

Terakhir, tidak bosan-bosan saya ucapkan terima kasih di mana pun berada baik di kata pengantar TA, postingan instagram, maupun di sosial media lain, kepada setiap orang yang telah membantu secara langsung maupun tidak langsung kepada saya selama di perkuliahan. Sekarang ini saya sudah lulus, sudah banyak motivasi dan inspirasi yang saya peroleh. Tinggal seberapa baik memanfaatkan inspirasi tersebut untuk membuat perencanaan dan siap lagi untuk menerima berbagai kegagalan di masa depan.

Saya juga selalu berdoa agar apapun keputusan yang saya ambil selalu di-ridloi oleh Allah SWT. Karena Dia-lah sebaik-baik pembuat rencana.

Bismillah


Saya juga selalu berdoa agar apapun keputusan yang saya ambil selalu di-ridloi oleh Allah SWT. Karena Dia-lah sebaik-baik pembuat rencana.

Bandung, 14 April 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s