Bersakit-Sakit Dahulu, Korea Kemudian


dsc_0563

Pada akhir bulan Agustus yang lalu, Alhamdulillah saya mendapat kesempatan untuk pergi selama enam hari ke Korea Selatan. Sudah banyak yang bertanya  “Eh Mir, kemarin ke Korea ya?.. cerita dong ngapain aja!..Kok bisa nyampe sana sih?”. Sebenarnya enam hari di sana itu hampir tidak terasa kalau itu sedang bepergian ke luar negeri, karena memang banyak sekali kegiatan yang harus saya jalani. Saat itu penyelenggara hanya memberi waktu dari siang sampai pukul 10 malam waktu setempat di hari terakhir untuk menjelajahi Kota Seoul. Walaupun hanya enam hari di sana, tetapi butuh persiapan delapan bulan sebelumnya untuk menyiapkan segala hal demi keberhasilan kegiatan yang dilakukan di sana.

Cerita berawal dari bulan Februari 2016 yang lalu, saya mengikuti program International Student Capstone Design Project 2016. Yaitu sebuah kompetisi mahasiswa dari multidisiplin ilmu dan multi negara dalam satu tim untuk bekerja sama mengerjakan suatu proyek pembuatan prototype produk teknologi sesuai tema yang telah ditentukan. Partisipan berasal dari lima negara, yaitu Indonesia diwakili oleh mahasiswa ITB, Singapura oleh mahasiswa NTU, Taiwan oleh mahasiswa Tunghai University, Malaysia oleh mahasiswa UKM, dan Korea Selatan oleh mahasiswa dari berbagai universitas yang tergabung dalam Hub Invation Center for Engineering Education-CBNU.

IMG_0416

Mahasiswa ITB, NTU, Jeju National Univ, & CBNU @Langkawi, Malaysia

Pertemuan awal dan pembagian tim dilakukan pada bulan Februari 2016 di Langkawi, Malaysia. Pada pertemuan awal ini, kami diminta untuk mengajukan sebuah ide yang kemudian dipresentasikan ke pihak penyelenggara, nantinya ide ini akan diwujudkan dalam sebuah produk prototype. Setelah pertemuan awal, semua partisipan pulang ke negara masing-masing dan melaksanakan pembuatan produk prototype dari ide yang telah kami presentasikan. Waktu pengerjaannya diberi waktu sampai delapan bulan kedepan, dengan ada dua kali progress report melalui video teleconference. Kemudian setelah waktu pembuatan selesai, semua akan melaksanakan presentasi final di Kota Incheon, Korea Selatan pada minggu terakhir Agustus 2016.

Saya tergabung di Global Team-03 yang terdiri dari 3 mahasiswa ITB dan 3 mahasiswa dari Jeju National University(JNU), akan tetapi masing-masing dari kami memiliki background pendidikan yang berbeda. Saya sendiri dari program studi yang belajar tentang kedirgantaraan, dua teman saya dari ITB dari program studi Fisika Teknik dan Arsitektur, kemudian tiga teman dari JNU semua dari program studi Computer Engineering. Dengan komposisi anggota tim dan kompetensi tiap individu yang berbeda kami dituntut untuk menemukan bagaimana bentuk kolaborasi yang bagus, manajemen pembagian jobdesk individu, dan tentunya pola komunikasi yang baik untuk menghadapi kompetisi ini secara serius.

Sangat banyak tantangan yang harus kami hadapi selama mengikuti kompetisi ini. Salah satunya masalah komunikasi. Karena kami satu tim berbeda negara maka komunikasi merupakan hal mutlak agar anggota tim di luar negeri ini bisa selalu terhubung untuk koordinasi. Karena kami menggunakan bahasa Inggris untuk komunikasi, maka kebanyakan kendala besarnya ada di kemampuan berbahasa Inggris pada tim Korea yang belum semua merata. Jadinya sering kali ada kesalahpahaman dan sebagainya. Kompetisi ini memberikan pengalaman pertama kali bagi saya dalam membangun sebuah kerjasama yang tingkatannya lebih advance dari sekedar kerjasama kelompok yang biasa saya lakukan di kampus. Berhubung saya dijadikan team leader, maka hal ini menjadi pekerjaan yang cukup berat karena saya sering kali menjadi penghubung kedua negara untuk berkomunikasi.

Seperti yang saya katakan di awal cerita bahwa walaupun hanya enam hari di sana, tetapi butuh persiapan delapan bulan. Kalau saya bilang delapan bulan ini merupakan proses terberat dalam kompetisi ini, bagi satu tim maupun di tiap individu. Berhubung saya dan teman satu tim saya dari ITB sedang pada masa tingkat akhir, yang berarti sudah waktunya mengerjakan skripsi/tugas akhir dan lulus menjadi sarjana, maka fokus kami menjadi terbelah. Hal ini membuat saya dalam masa-masa galau karena saya juga seorang mahasiswa yang dari lubuk hati ingin segera mengerjakan tugas akhir. Di sisi lain saya juga team leader yang bertanggung jawab untuk memimpin dan mengatur tim ini agar berhasil mengerjakan tugas kompetisi dengan baik. Banyak keputusan beresiko yang saya ambil, sampai saya memutuskan untuk menunda kelulusan saya demi fokus ke kompetisi ini.

Banyak hal yang sudah dikorbankan, tetapi hasilnya hingga hari terakhir berkata lain. Produk yang kami buat mempunyai kerusakan di suatu sub-sistem saat melakukan proses trial & error, bahkan beberapa kali terjadi ledakan kecil. Komponen yang ada sebenarnya sudah rusak dan ketika mencari barang pengganti komponen tersebut sangat susah dicari dalam sehari. Apalagi komponen yang rusak itu harganya cukup mahal. Kami sempat diancam tidak diberangkatkan ke Korea Selatan untuk presentasi final. Sehingga pada hari terakhir sebelum keberangkatan kami pasrah dimarahi dosen-dosen pembimbing kami karena tidak memenuhi target penyelesaian produk. Saya sendiri sangat malu, mungkin teman satu tim saya yang lain juga. Lebih malu lagi karena kami satu-satunya tim yang produknya gagal bekerja dengan baik.

Kami satu tim akhirnya berangkat ke Korea Selatan. Mungkin bagi sebagian orang ini menyenangkan, tetapi saya sendiri masih merasa kurang percaya diri, sedih, dan malu. Rasa ini semakin memuncak ketika sampai tiba di presentasi final. Sehingga produk kami dan tim kami berakhir dengan hasil yang sangat tidak memuaskan dibanding tim Indonesia yang lain.

Salah satu hal yang saya syukuri adalah saya berada di tim yang selalu saling support dan punya keinginan untuk bangkit walaupun seringkali terjadi konflik. Teman satu tim dari Korea selalu menghibur dan memberikan semangat kepada saya dan semua anggota tim. Sehingga kami tidak terlalu down dan minder. Karena masih ada tiga hari lagi di Korea dan masih ada satu lagi kompetisi yang belum diselesaikan, sehingga kami bertekad untuk pulang ke Indonesia tidak dengan “tangan kosong”. Oleh karena itu, kami berusaha proaktif dalam setiap ada kuliah umum di sana dan challenge yang diberikan.

Ada satu lagi kompetisi yaitu International Student Multidisciplinary Design Camp: TRIZ Contest. Yaitu sebuah kompetisi yang memberikan tantangan kepada peserta untuk melakukan improvement design suatu produk teknologi yang sudah ada di pasar menggunakan metode TRIZ. Yaitu suatu metode yang dikembangkan oleh seorang dari Rusia, yang sekarang banyak digunakan oleh perusahaan besar di Korea contohnya Samsung. Jika pada kompetisi sebelumnya kami diberi waktu delapan bulan, maka untuk TRIZ contest ini diberikan waktu hanya sekitar satu hari. Kami diminta untuk membuat prototype design hasil improvement design dengan material yang sudah disediakan panitia. Kemudian esok harinya presentasi hasil dari produk yang sudah jadi prototypenya dan demonstrasi fungsi produk. Alhamdulillah, akhirnya tim kami tidak jadi membawa “tangan kosong”. Kami medapatkan Silver Prize untuk kompetisi ini. Tentunya kami bersyukur, setidaknya rasa malu dan minder kami pada kompetisi sebelumnya sedikit berkurang dengan adanya hasil ini.

Setelah TRIZ contest ini selesai, semua partisipan akhirnya diberi kesempatan oleh penyelenggara untuk menjelajahi Seoul, ibukota Korea Selatan. Tentunya kami senang sekali karena selama di kompetisi ini kami berada di Incheon yang tidak terlalu ramai dan bisa dibilang daerah agak terpencil. Dengan waktu yang ada kami banyak mengunjungi berbagai landmark Kota Seoul yang mungkin terkenal seperti Gyeongbokgung Palace, Bukchon Hanok Village, Myeong-Dong Street, dan sebagainya.

kakaotalk_20160828_181845581

Saya bersyukur mendapat kesempatan untuk mengikuti kompetisi yang besar ini di tahun terakhir saya di ITB. Walaupun memang mungkin membuat saya sendiri jadi agak mundur lulusnya, tetapi pengalaman dan motivasi yang saya dapatkan sangat luar biasa. Pengalaman luar biasa ketika kamu juga berjuang bersama dalam satu tim dari ITB yang berisi mahasiswa berprestasi di tiap jurusan mereka, membuat saya juga termotivasi untuk selalu mengejar prestasi. Juga pengalaman dimarah-marahi dosen sampai diancam. Hingga pengalaman dalam mengambil keputusan sulit. Ini pembelajaran sekali bagi saya.

Mungkin itu saja yang bisa saya ceritakan, semoga dalam tulisan ini terdapat pelajaran yang bisa diambil, walaupun hanya sedikit. Semoga bermanfaat.

1472426520133

Advertisements

One thought on “Bersakit-Sakit Dahulu, Korea Kemudian

  1. Pingback: Terakhir! Tulisan Baper Tentang Wisuda – From Aero to Hero

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s