Terima Kasih AMI!


maskot 2013

Menjadi bagian keluarga panitia Aku Masuk ITB sejak TPB hingga sekarang semester 6 adalah pengalaman yang mungkin tidak akan pernah terlupa sepanjang hidup saya. Terlalu banyak kenangan, senyuman, dan keceriaan anak-anak AMI yang sulit untuk ditinggalkan. Sekarang saya harus ingat umur, sadar kalau sudah mau tingkat empat. Selama tiga tahun ini saya mendapat banyak pengalaman yang membuat lika-liku kehidupan kemahasiswaan saya semakin berwarna. Kalau dituliskan dalam sebuah postingan blog mungkin tidak akan selesai kisah AMI ini. Sekarang saya mencoba berbagi kisah saya selama menjadi panitia AMI, tentang segala hal yang saya rasakan :).

Pertama kali gabung di AMI

grup ami

Pertama kali kenal saat saya masih kelas 12 MA (Madrasah Aliyah), ketika salah seorang kakak mahasiswa dari paguyuban Pati meng-invite saya masuk ke dalam grup Aku Masuk ITB. Mulai dari sini lah saya mendapatkan informasi tentang jalur masuk ITB. Tidak jarang juga banyak mahasiswa ITB yang sering memberikan motivasi dan trivia ITB di grup ini. Bisa dibilang kalau saya dulu lumayan eksis di grup. Saya mendapat teman-teman seperjuangan masuk ITB dari berbagai wilayah di Indonesia dan itu seru banget. Banyak juga loh yang awalnya berkenalan lewat dunia maya akhirnya ketemu orangnya langsung di kampus :D. Saat penerimaan maba pun, saya yang awalnya sempat minder karena tidak ada teman dari satu sekolah dan tidak ada teman ngobrol, ternyata saya cukup banyak teman di sini. Waktu itu nama akun saya cukup alay, yaitu “Za Mir” dan sering banyak nanya di grup haha, makanya gampang dikenal. (maaf kalau sok ngartis)

Tempat pelarian semasa TPB

Saya dulu sempat daftar di empat unit, dan tidak kuat menjalani kehidupan kaderisasinya :(. Untuk mengisi kekosongan saya saat itu, AMI menjadi pilihan tepat. Saya merasa mendapat banyak teman baik tanpa melewati sebuah kaderisasi yang sering banyak tugas, misalnya: buku angkatan, foto bareng berdua, dan sebagainya yang saya rasa akan menyita waktu, dan pastinya saya malas ngerjain tugasnya haha.

Pertama kali daftar di AMI

Saat forsil paguyuban, tahun 2013, saya mewakili paguyuban Pati untuk datang di forsil. Di situ panitia AMI 2013 membuka oprec buat anak-anak paguyuban. Saya mendaftar di divisi seminar di pilihan pertama, disusul divisi edufair, dan terakhir divisi Paguyuban back to School (PBTS). Ternyata saya masuk di pilihan tiga :(.  

Ternyata dari divisi PBTS awal “jatuh cinta” dengan AMI

teman2amiSalah satu mata acara AMI adalah paguyuban back to school. Inti acara ini sebenarnya adalah mengoordinasikan paguyuban di seluruh Indonesia untuk turun ke daerah memberikan informasi perkuliahan dan motivasi untuk melanjutkan ke perguruan tinggi ke anak SMA, terutama di ITB. Sebagai salah satu staff, saya berusaha bekerja sebaik mungkin. Sayangnya dari banyaknya staff, yang bertahan sedikit banget. Pas ITB day, SDMnya tinggal saya dan kadiv saya :(. Di sini saya belajar bagaimana mengoordinasi teman-teman paguyuban seluruh Indonesia, menjadi tempat bertanya, dan terkadang banyak pertanyaaan perihal masuk ITB. Lumayan capek, tetapi saya senang berbagi informasi ke siswa SMA dan membangun jaringan dengan teman-teman paguyuban. Melihat kinerja PBTS di AMI 2013 membuat saya berpikir untuk mengevaluasi kinerja dan mencoba memberi solusi sederhananya sehingga tahun depan divisi ini menjadi lebih baik. Karena sebenarnya di divisi inilah ujung tombak AMI jika mau menyebarkan informasi ke seluruh Indonesia.

Diberi amanah sebagai Ketua Divisi ITB goes to School (IGTS) AMI 2014 dan Ketua Bidang Diseminasi AMI 2015 

gajahami

diseminasi2

Mendapat amanah menjadi kadiv membuat saya termotivasi untuk memperbaiki acara PBTS tahun sebelumnya dengan konsep dan nama baru yaitu ITB goes to school. Saat menjadi kadiv adalah saat ketika saya belajar untuk mengoordinasi, menjaga staff, dan menyelesaikan berbagai permasalahan. Tantangan yang besar ketika harus berurusan dengan 75 paguyuban yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Walaupun tantangannya besar, hal yang menyenangkan adalah ketika mendapatkan teman dengan latar belakang daerah yang berbeda. Apalagi ketika forsil, ramai dengan logat daerah mereka masing-masing :). Alhamdulillah, ITB goes to school berhasil mengunjungi 28 provinsi dengan peserta lebih dari 100 ribu siswa SMA :’).

Sekarang, saya diamanahi sebagai Ketua Bidang Diseminasi AMI 2015 dengan membawahi tiga divisi yaitu Surat Cinta Untuk Indonesia, ITB Goes to School, dan Diseminasi Khusus. Bidang ini yang akan mengoordinasi pergerakan massa kampus untuk ikut pulang ke daerah masing-masing dengan membawa informasi dan kisah inspiratif.

Setelah lama mengenal sejarah dan lika-liku AMI, saya sadar bahwa ini adalah pergerakan mahasiswa sangat nyata manfaatnya.

logoami2013 logo ami 2015 AMI

Acara ini bukan acara yang asal ada loh, cerita dibalik adanya program AMI menarik untuk teman-teman tahu. Berikut ceritanya, sumber dari Kang Herry Dharmawan PN06, sebagai presiden KM saat itu:

Jadi waktu itu kemahasiswaan lagi ramai diguncang isu ITB mahal karena harus bayar uang pangkal 55 juta. Kabinet saat itu mencoba memfasilitasi suara teman-teman yang mempertanyakan kebijakan tersebut dengan pertemuan bersama rektorat dan beberapa gerakan protes yang diinisiasi bersama.
Sampai satu titik dimana kami menyadari bahwa mengeluh dan protes tidak akan menyelesaikan permasalahan. Lalu menteri advokasi saya saat itu, Catur Anindhito GD 06 berdiskusi dengan menteri kominfo, Anggita Tresnamayung SI 07 untuk jemput bola menjelaskan ke adik-adik SMA bahwa tidak perlu takut dengan biaya kuliah di ITB dan sangat banyak peluang beasiswa yang bisa didapatkan oleh teman-teman.
Kita merasa bahwa adik-adik itu harus dirangkul untuk melihat ITB dari dekat, agar beban psikologis mereka lebih ringan. Analoginya ibarat McD yang udah ngasih paket hemat sampe harga cuma Rp 5.000 sekalipun, anak-anak jalanan akan tetap ga berani masuk McD karena merasa bukan “kelas”nya. Jadi kita ingin menghilangkan perasaan minder itu dengan mengajak mereka langsung main ke ITB.
Dalam perjalanannya, saat itu teman-teman unit kedaerahan pun merasa terpanggil untuk memberikan informasi yang jelas mengenai mekanisme masuk ITB. karena seringkali yang mereka dengar itu cuma selentingan-selentingan kabar, kata-si-ini kata-si-itu.Saya mengapresiasi kalau AMI sekarang dijadikan project bersama komunitas dan unit kedaerahan, karena memang teman-teman alumni SMA yang masuk ITB itulah yang biasanya menjadi ujung tombak informasi mereka.
Semakin bertambahnya tahun, AMI sadar bahwa pendidikan adalah pondasi untuk membangun Indonesia lebih maju. Akan tetapi, banyak permasalahan yang terkait tentang pendidikan.Salah satu yang paling besar masalahnya yaitu akses. Banyak pelajar di Indonesia memiliki mindset bahwa kuliah itu mahal, menghabiskan uang, mending kerja kemudian dapat gaji besar. Tanpa mereka sadari pemikiran tersebut dapat membawa mereka ke dalam lingkaran setan kemiskinan yang mungkin akan terus berlanjut ke anak cucu mereka. Asal hidup cukup, bisa makan, menafkahi keluarga. Banyak anak muda Indonesia yang terancam masa depan mereka, dan bisa jadi masa depan Indonesia juga terancam karena warga mudanya tidak punya kemampuan yang cukup untuk menghadapi tantangan global.
Di AMI kita berkolaborasi, mulai dari mahasiswa dari paguyuban daerah, Himpunan Mahasiswa Jurusan, Unit Kegiatan Mahasiswa, bahkan rektorat sekalipun. Semua berkumpul dan berkolaborasi dalam sebuah pengabdian masyarakat yang paling besar. Kita turun ke 34 Provinsi di Indonesia, berbagi motivasi, informasi. Banyak daerah di Indonesia yang kekurangan akses. Di sini setiap mahasiswa yang turun akan punya peran menjawab pemasalahan akses tersebut. Pastinya, akan menjadi tempat bertanya dan harus ada jawabnya :).
“Pendidikan bukanlah hak, tapi janji kemerdekaan. ITB bukanlah kampus eksklusif, tapi kampus bagi semua kalangan yang mau berjuang!”

Menjadi panitia AMI membuatmu merasakan indahnya berbagi.

IMG_0234

Dokumentasi Roadshow IGTS

Di AMI, saya merasakan bagaimana menjadi orang yang sering ditanya, diminta untuk cerita, dimintai motivasinya. Mungkin hampir semua panitia AMI pernah ditanya-tanya tentang jalur masuk ITB, kegelisahan nilai raport, bahkan cerita hidup orang yang tidak diperbolehkan lanjut kuliah dengan alasan yang aneh-aneh. Pernah saya capek karena banyak juga yang nanya ke saya, menjawab satu-satu, mungkin anak-anak SMA mengira kita panitia penerimaan SNMPTN :(. Saya berpikir kenapa harus capek ketika banyak teman-teman yang butuh jawaban kamu, apalagi kalau pertanyaan itu menyangkut masa depan mereka kelak?. Kepuasaan ketika banyak anak yang bertanya ke kita, dan jawaban kita membuat mereka senang, dan optimis  dalam menatap masa depan mereka :’). Ternyata berbagi itu sederhana, tetapi sangat bermakna .

Kamu akan bertemu banyak orang yang mempunyai mimpi besar

forsil

Forum Silaturahmi paguyuban

Saya sering ketika liburan berkunjung ke sekolah-sekolah untuk sosialisasi, banyak siswa yang antusias bertanya dan mengungkapkan mimpi-mimpi mereka. Ada yang ingin jadi insinyur, dokter, dan sebagainya. Terkadang semangat mereka membuat saya merenung. Anak umur seusia mereka semangat untuk menggapai mimpi masing-masing. Dan kamu kadang malah malas-malasan di perkuliahan.

Ketika ke sekolah, kita seperti dipandang seorang teladan, seharusnya bukan dijadikan sebagai ajang menyombongkan diri, tetapi membuatmu punya prinsip agar menjadi contoh yang baik, terus berprestasi, dan semangat menggapai mimpi. Semua teman-teman AMI menyaksikan bahwa bukan hanya 1 atau 2 orang saja yang punya mimpi besar, tetapi kita menyaksikan ratusan ribu anak muda Indonesia yang punya mimpi besar untuk membangun negeri ini lebih maju.

Menjadi panitia AMI membuatmu bersyukur

IMG_6050

Dokumentasi IGTS

Saya sadar bahwa banyak anak Indonesia yang kesulitan untuk meraih impiannya. Dari Aceh sampai Papua, banyak yang tidak seberuntung kita yang punya akses internet yang cepat, fasilitas sekolah yang bagus, dan kualitas guru yang dapat meluangkan waktu untuk siswanya.

Saya banyak mendapatkan gambaran banyak ketika teman-teman Tim Diseminasi Khusus pulang ke Bandung dan bercerita tentang daerah yang mereka kunjungi. Teman-teman bisa mengingat ketika kita dulu mendaftar SNMPTN dengan lancar dan proses cepat.Ternyata ada suatu sekolah di provinsi yang mereka kunjungi, guru harus ke kantor kecamatan untuk mendaftarkan siswanya agar bisa ikut SNMPTN. Belum antrinya dengan guru dari SMA yang lain, kesulitan yang mereka hadapi sering membuat sang guru putus asa, apalagi kalau tidak ada yang diterima di PTN. Kadang keputus-asaan itu menular ke siswa-siswanya. Sehingga banyak yang enggan lanjut kuliah.

Mendengar ceritanya saja sudah merasa prihatin, apalagi yang langsung terjun di sana. Patut kita syukuri anugerah Tuhan yang selama ini kita rasakan ini. Ini mungkin salah satu alasan mengapa kita bersedia untuk ke kampung halaman dan sosialisasi. Karena ingin keberuntungan yang kita rasakan akan dirasakan juga oleh adik-adik kita.

Semakin lama, kamu akan merasakan ikatan emosional yang terbentuk di AMI

emosional

Closing ITB Day 2015 , Dokumentasi panitia AMI 2015

Banyak orang dari berbagai latar belakang yang akan kamu temui di sini . Walaupun awalnya kita tidak saling kenal, tetapi suara hati kita sama untuk saling membantu . Keramahan dan keceriaan orang-orang ini akan membuatmu merasa ada di sebuah keluarga yang akan menjadi tempatmu bernaung. Ikatan batin terbentuk karena kerja bareng-bareng di sini hampir dari satu semester yang penuh lika-liku, dan selamanya kita akan pantau bareng-bareng adik-adik kita di SMA. AMI tidak akan sebesar ini tanpa ketulusan, dan semangat panitianya.

Kamu akan selalu rindu dengan keceriaan dan semangat yang ditularkan

AMIccbarat

Dokumentasi AMI 2015

Saya akan selalu rindu bekerja dengan anak-anak AMI :’). Kadang kita sendiri tidak sadar bahwa tugas kita berat, tetapi kita selalu bisa mencari celah untuk bisa ketawa bareng tanpa ada kata-kata kasar dan tanpa menghina satu sama lain. Ketika banyak masalah coba datang ke anak-anak AMI. Sejenak mereka dengan ringan memberi senyuman :). Walaupun kadang menyebalkan kalau lagi random membahas jodoh dan pernikahan :D. Saya masih sering lewat CC barat, kali aja ada anak AMI yang nongkrong di sana dan bisa diajak ngobrol.

Itulah kesan dan cerita saya tentang AMI ini. Terlalu banyak kisah yang belum dituliskan.Terima kasih atas semua motivasi, inspirasi, dan kejutan yang kalian berikan selama tiga tahun ini. Terima kasih telah mewarnai lika-liku kisah saya dan ribuan pelajar di Indonesia yang mau melanjutkan perguruan tinggi. Terima kasih telah mewarnai kisah kemahasiswaan saya di kampus ini. Maaf kalau selama bekerja di AMI saya banyak kesalahan dan kekurangan. Semoga kemurahan hati dan keikhlasan teman-teman AMI mendapat balasan pahala oleh Tuhan.Amin

Sejuta Asa, Seluas Samudera, Satu Indonesia!

Bonus foto:

AMI2015

ITB Day AMI 2015

AMI2014a

ITB Day AMI 2014

484218_4440437370785_1038384873_n

ITB Day AMI 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s